Mengenal Perlindungan CITES Bagi Satwa dan Tumbuhan Liar

Posted on

Mengenal Perlindungan CITES Bagi Satwa dan Tumbuhan Liar – Di tengah maraknya kasus kerusakan alam maupun bencana alam yang datang silih berganti, atau tak henti- hentinya kasus perburuan dan perdagangan satwa liar. Menanggapi masalah tersebut pemerintah Indonesia sendiri sudah melakukan berbagai upaya terkait dengan perlindungan hukum yang kuat. Salah satunya dalah CITES. Convention on international trades on endangered species (CITES) of wild flora and fauna adalah perjanjian internasional antar negara, CITES adalah satu- satunya perjanjian globa yang fokus pada upaya untuk memberikan perlindungan pada spesies tumbuhan dan hewan- hewan liar yang menyebabkan spesies tersebut terancam punah. Sampai pada tahun 2006 setidaknya sudah ada 170 negara yang mengikuti perjanjian ini secara sukarela. Pejanjian ini memang sangat terstruktur dan memiliki pondasi hukum yang kuat untuk membuat pondasi hukum bagi satwa dan flora liar. Setidaknya sudah ada 33.000 spesies tumbuhan dan 800 jenis hewan yang dilindungi dalam payung perjanjian CITES.

Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa pihak yang bekerja sama menerapkan perjanjian CITES, diantaranya adalah Agen Slot dan Balai Kesatuan Pengelola Hutan. Selain menjalankan berbagai kesepakaatan dalam perjanjian CITES mereka juga melakukan beberapa langkah positif seperti reboisasi, dan pemanfaatan hutan secara bijak. Selain itu ada pula Balai Perbenihan Kehutanan, Balai Taman Hutan Raya Bunder, dan masih banyak lagi. Lembaga- lembaga terkait inilah yang setia menjalankan kesepakatan perjanjian CITES untuk keberlangsungan ekostistem flora dan fauna yang ada di Indonesia.

Indonesia sendiri sudah banyak mengalami kehilangan atau kepunahan atas flora dan fauna yang ada di wilayah hutan Indonesia. Antara lain adalah Harimau Bali, menurut sumber Harimau Bali terakhir ditembak pada tahun 1925, sampai kemudian spesies ini dinyatakan punah pada tanggal 27 September 1937. Kemudian Harimau Jawa, saat ini Harimau Jawa memang belum dinyatakan punah, namun keberadaannya sudah susah diverivikasi, Harimau ini sudah jarang terlihat bahkan di hutan- hutan yang ada di Jawa sekalipun. Dalam CITES terdapat 3 penggolongan kategori flaura dan fauna yang agar mendapat perlindungan.

Golongan pertama adalah flaura dan fauna yang dilindungi dan dilarang perburuan serta perdagangannya, diantaranya ada Gajah Sumatra, Badak Sumatra. Kemudian golongan ke dua adalah golongan flaura dan fauna yang belum dinyatakan punah, namun akan menuju kepunahan jika perburuan dan perdagangan di lakukan secara terus menerus. Misalka perburuan sirip Hiu, hewan ini termasuk dalam hewan yang dilindungi, perburuannya masih di perbolehkan selama masih dalam batas, begitupun dengan paus. Golongan ketiga adalah flaura dan fauna yang dilindungi beserta dengan ekosistem yang ada di sekitarnya. misalkan kawasan konservasi cagar alam, suaka marga satwa, kawasan hutan lindung, hutan tropis yang tersebar di beberapa titik Indonesia.

Menjaga keseluruhan wilayah ekosistem flora dan fauna yang ada di Indonesia bukanlah hal yang mudah, diperlukan kerja sama yang nyata dan komitmen yang kuat demi keberlangsungan hidup negara Indonesia. Selama ini seperti yang kita tau pembangunan terus dijalankan, namun sayangnya pembangunan yang merata ini semakin banyak yang mengambil alih fungsi hutan dan wilayah penting lainnya. Itu sebabnya bencana alam seperti longsor, banjir, kebakaran hutan semakin tak terkendali. Dengan memperbanyak kawasan konservasi yang ada di Indonesia mudah-mudahan semakin memperbaiki kerusakan yang sudah di lakukan umat manusia. Semoga setelah adanya perlindungan hukum ini masyarakat semakin berfikir ulang untuk melakukan perbuatan illegal yang mengancam keberlangsungan flora dan fauna serta ekosistem yang ada di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *